Senin, 18 Juni 2012

Obesitas Pada Anak Usia Dini


Obesitas Pada Anak Usia Dini

Kesehatan anak sangatlah penting, banyak orang tua yang melakukan apapun demi menjadikan anak sehat dan terawat. Berbagai vitamin dan asupan gizi diberikan kepada sang anak agar anak mempunyai nutrisi yang cukup bahkan lebih cukup. Anak yang gemuk sering dianggap sebagai anak yang lucu, imut dan menggemaskan. Akan tetapi, bagaimana jika anak yang diberikan berbagai vitamin malah mengalami overdosis nutrisi ? Sejatinya hal ini akan sangat merepotkan orang tua. Anak yang mempunyai nutrisi ataupun gizi berlebih juga dapat mempengaruhi hormon perkembangan yang dimiliki si anak. Akibatnya, badan menjadi sangat gemuk atau sering disebut obesitas. Mungkin selama ini obesitas hanya terjadi pada anak remaja ataupun orang dewasa tapi telah ada kejadian bahwa obesitas juga menyerang anak usia dini apabila pemenuhan kesehatan anak terlampau berlebih.
Kesehatan anak juga menjadi tanggung jawab pemerintah karena lingkungan yang berpengaruh penting terhadap kesehatan anak. “Jumlah anak yang mengalami obesitas makin meningkat di negara berpendapatan rendah dan menengah, khususnya di perkotaan. Dibutuhkan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan produsen industri makanan agar faktor resiko penyebab obesitas dapat teridentifikasi dan dikendalikan,” jelas Prof. James. Indonesia sebagai negara berkembang juga dihadapkan dengan persoalan beban ganda (double burden ), di satu sisi masalah anak kurang nutrisi masih banyak terjadi namun di sisi lain jumlah anak dengan obesitas juga kian meningkat. Lebih jauh mengenai obesitas anak, Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif SpA (K) menjelaskan ada dua faktor yang mempengaruhi obesitas, pertama adalah faktor genetik. ”Anak yang menderita obesitas biasanya memiliki orangtua yang obesitas pula. Jika salah satu orangtua menderita obesitas, maka 40% kemungkinan anaknya akan menderita obesitas, sedangkan jika kedua orangtua menderita obesitas, maka resikonya meningkat menjadi 70%,” terang Dr. Damayanti.
Sedangkan faktor yang ke dua adalah lingkungan, hal ini berkaitan dengan tingkat metabolisme tubuh anak, aktivitas fisik, budaya, dan asupan makanannya. Di Indonesia, anak-anak yang hidup di perkotaan masih memiliki kecenderungan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung energi dan lemak tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan jajan serta ketersediaan dan keterjangkauan makanan yang kurang sehat. Oleh karena itu, dalam upaya intervensi obesitas pada anak, diperlukan penerapan kebiasaan makan bernutrisi dan beraktivitas sehat dengan orangtua sebagai panutan,” lanjut Dr. Damayanti
Sebuah penelitian terbaru di AS mengungkapkan bahwa anak-anak yang kelebihan berat badan mungkin tak memiliki kinerja akademis yang baik, khususnya dalam mata pelajaran matematika layaknya rekan-rekannya yang memiliki berat badan normal.
Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengatasi obesitas pada anak, antara lain :
1.      Pengaturan makan dimulai dengan makan teratur 3 kali sehari. Bila anak masih lapar, berikan buah tetapi jangan dibuat jus. Namun, beberapa berkalori tinggi seperti avokad, pisang dan mangga sebaiknya dihindari. Memperbanyak konsumsi air putih dan sayur seperti yang Ibu lakukan juga merupakan hal yang baik.
2.     Aktivitas fisik yang dilakukan anak Ibu juga sudah benar, karena sampai berkeringat. Artinya, ada energi/kalori yang dibakar. Jenis aktivitas fisik untuk anak seusianya juga tidak selalu harus berupa olahraga. Yang penting, anak berkeringat dan menyukai aktivitas yang dilakukan. Perhatikan juga pengaturan aktivitas menonton televisi dan kegiatan yang berhubungan dengan komputer. Anak yang sering menonton televisi dan banyak menghabiskan waktu di depan komputer atau gemar menggunakan permainan elektronik, umumnya jadi kurang bergerak.
3.     Mengubah perilaku makan. Hindari ngemil (snacking) serta makanan tinggi kalori seperti cokelat, kue tart, es krim dan minuman ringan (soft drink). Biasakan anak makan di rumah atau batasi makan di pusat perbelanjaan, karena umumnya makan yang dibuat di rumah mempunyai kandungan kalori lebih rendah.

Referensi : TabloidNOVA.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar