Sabtu, 16 Juni 2012

Bermain atau Belajar ?



Kakak : adek.. lagi main apa sih? Buruan masuk kita maem dulu!
Adek : lagi main kereta-keretaan nih kak.
Kakak : udah dulu yuk mainnya, kita maem dulu.
Adek : bentar dong  kak, keretanya belum sampai stasiun. Jadi belum boleh berhenti.
S
ering kah anda menghadapi kejadian seperti ilustrasi diatas? Dimana anak yang sedang asyik bermain tidak mau menghentikan permainannya. Pasti tidak jarang hal itu terjadi ketika kita menghadapi anak usia dini. Lalu, apa yang harus dilakukan? Membiarkan tetap bermain? Atau memaksanya menghentikan permainannya? Tidak sedikit dari kita memilih langkah yang kedua, memaksa menghentikan permainanya. Namun apakah kita mencoba memahami apa alasan anak tersebut? “keretanya belum sampai stasiun. Jadi belum boleh berhenti.” Apakah kita berpikir bahwa anak tersebut pun sedang belajar? Kenapa kita tidak berpikir bahwa betapa pintarnya anak tersebut. Dia tahu bahwa kereta hanya berhenti di stasiun, oleh karenanya dia tidak mau menghentikan permainannya sebelum objek yang dia anggap kereta tersebut sampai ke tempat yang dia anggap sebagai stasiun.
Tidak selamanya permainan itu hanya membuang-buang waktu saja. Apalagi perlu diperhatikan bahwa dunia anak adala dunia bermain. Menurut Singer (dalam Kusantanti, 2004) mengemukakan bahwa bermain dapat digunakan anak-anak untuk menjelajahi dunianya, mengembangkan kompetensi dalam usaha mengatasi dunianya dan mengembangkan kreativitas anak. Dengan bermain anak memiliki kemampuan untuk memahami konsep secara ilmiah, tanpa paksaan.
Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. Menurut Conny R. Semiawan (Jalal, 2002: 16) bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan, bukan karena hadiah atau pujian. Melalui bermain, semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Melalui permainan, anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. Oleh karena itu, bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek.
Bermain merupakan sebuah instrumen penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak-anak, juga sebagai sebuah refleksi atas perkembangan mereka. Memahami bahwa anak adalah konstruktor-konstruktor aktif atas pengetahuan yang dimiliki dan bahwa perkembangan dan belajar sebagai hasil proses interaktif, para guru anak usia dini mengakui bahwa bermain bagi anak merupakan sebuh kontek yang sangat mendukung untuk proses-proses perkembangan tersebut (Piaget 1952; Fein 1981; Bergen 1988; Smilansky & Shefatya 1990; Fromberg 1992; Berk & Winsler 1995).
Bermain memberi anak-anak kesempatan-kesempatan untuk memahami dunia, berinteraksi dengan orang lain dalam cara-cara yang secara sosial diterima, mengekspresikan dan mengontrol emosi-emosi, dan mengembangkan kapabilitas-kapabilitas simbolik mereka. Permainan anak memberi orang-orang dewasa pencerahan-pencerahan atas perkembangan anak-anak dan kesempatan-kesempatan untuk mendukung pengembangan strategi-strategi baru. Vygotsky (1978) meyakini bahwa bermain mengarahkan perkembangan, sebagai contoh, permainan simbolik dapat mempromosikan perkembangan abilitas-abilitas representasi simbolik. Bermain menyediakan sebuah kontek bagi anak-anak untuk mempraktekkan keterampilan-keterampilan yang baru dikuasai dan juga berfungsi sebagai sudut pengembangan kapasitas-kapasitas untuk menjalankan peran-peran sosial yang baru, mencoba tugas-tugas yang baru atau yang menantang, dan memecahkan permasalahan yang komplek yang mungkin bisa atau tidak akan bisa mereka tangani (Mallory & New 1994b).
Penelitian menunjukkan pentingnya permainan sosiodrama sebagai bagian dari kurikulum belajar untuk anak-anak usia 3 sampai 6 tahun. Ketika para guru menyediakan sebuah organisasi tematik untuk bermain, menawarkan dukungan, ruang, dan waktu yang tepat, dan menjadi lebih terlibat dalam permainan dengan memperluas dan mengelaborasi atas gagasan-gagasan anak, maka bahasa dan keterampilan-keterampilan literasi anak dapat ditingkatkan (Levy, Schaefer, & Phelps 1986; Schrader 1989, 1990; Morrow 1990; Pramling 1991; Levy, Wolfgang, & Koorland 1992).
Adapun beberapa manfaat dari bermain adalah sebagai berikut :
Berkembangnya kemampuan kinestesik dan motorik anak.
Berkembangnya otak kanan anak yang berpengaruh terhadap kecerdasan emosional, kreativitas, dan spasial.
Berkembangnya kemampuan anak untuk bersosialisasi
Berkembangnya pengetahuan anak tentang norma dan nilai- nilai .
Berkembangnya kemampuan anak dalam memecahkan masalah,
Berkembangnya rasa percayaan diri anak.
Menurut Montololu (2005:1.15) bahwa manfaat sikap senang bermain bagi anak adalah sebagai berikut :
·         Bermain memicu kreatifitas anak,
·         Bermain bermanfaat mencerdaskan otak anak,
·         Bermain bermanfaat menanggulangi konflik bagi anak,
·         Bermain bermanfaat untuk melatih empati,
·         Bermain bermanfaat mengasah panca indera,
·         Bermain sebagai media terapi (pengobatan),
·         Bermain itu melakukan penemuan.
Nah, betapa besarnya kan pengaruh bermain bagi perkembangan anak. jadi, ketika anak sedang bermain jangan paksa untuk berhenti, bahkan kalau perlu ikutlah berpartisipasi dalam permainannya sehingga anak akan lebih merasa senang dan lebih banyak mendapat pelajaran.
Referensi :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar